| Mau Pilih Menanam Investasi di Mana... |
|
|
|
| 0, 13th October 2008 | |
|
Senin, 13 Oktober 2008 | 03:00 WIB Investor mana yang tidak khawatir melihat gejolak finansial global semakin meradang. Jantung investor mana pun pasti berdegup kencang menyimak investasinya terus merosot hari demi hari, bahkan detik demi detik. Namun, ketakutan yang berlebihan justru akan membuat semuanya semakin runyamKrisis finansial di Amerika Serikat memang ibarat wabah penyakit mematikan yang siap menyebar ke mana saja. Krisis itu telah membuat petinggi sampai masyarakat akar rumput di semua negara heboh. Bagaimana tidak, dalam waktu singkat, indeks saham di seluruh bursa dunia anjlok ke level terendah dibandingkan dengan 3-5 tahun terakhir ini. Terhitung dari 31 Desember 2007 sampai Jumat (10/10), Indeks Dow Jones Industrial Average telah terkoreksi 36,29 persen. Ini merupakan terendah sejak lima tahun terakhir. Anjloknya indeks saham di bursa paling berpengaruh di dunia itu pun membawa dampak buruk bagi bursa-bursa lainnya. Dampak buruk juga dirasakan oleh bursa saham China, Indeks Shanghai di China rontok 61,98 persen. Adapun Indeks RTS di Rusia anjlok 63,12 persen. Bursa Indonesia pun tak luput dari gonjang-ganjing yang terjadi di AS. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (BEI), yang tahun 2007 menunjukkan kinerja mengagumkan, yaitu naik 52,08 persen dibandingkan dengan tahun 2006, kini berbalik arah. Sepanjang tahun ini, IHSG telah terkoreksi 47,13 persen. Sebesar itu pulalah investasi di pasar saham Indonesia telah merosot, termasuk investasi pada reksadana saham. Bisa dipahami apabila para investor pasar modal di dalam negeri cemas. Kepanikan tak dapat dihindari. Padahal, kepanikan justru akan membuat situasi semakin buruk. The Wall Street Crash di AS tahun 1929, yang merontokkan Indeks Dow Jones hingga 89,46 persen, menjadi salah satu buktinya. Di Indonesia, beberapa kali IHSG anjlok cukup dalam akibat panic selling, atau aksi jual saham secara membabi buta. Rabu (8/10), otoritas BEI akhirnya menghentikan sementara perdagangan saham karena khawatir melihat tingkat kepanikan investor yang sudah di luar batas wajar. Jangka panjang Kalau tidak boleh panik, lantas apa yang harus dilakukan oleh investor? Dalam diskusi di Kompas, Chief Economist BNI yang juga dosen Fakultas Ekonomi UGM A Tony Prasetiantono dan analis perbankan dan pasar modal, Mirza Adityaswara, menyarankan, dalam menghadapi situasi saat ini sikap terbaik adalah tidak panik. Hal yang sama disarankan oleh Presiden Direktur Fortis Investment Eko Pratomo. ”Sekali lagi, sikap paling mendasar yang perlu di ambil adalah tidak panik,” sarannya. Kepanikan, kata pengamat pasar modal Robert JS Nayoan, hanya akan menghilangkan nalar investor dalam berinvestasi, yang bisa berakibat salah dalam mengambil keputusan. Menurut Eko, penurunan indeks selama setahun terakhir sebenarnya hanya ”kerugian di atas kertas” atau sering disebut dengan unrealized loss atau potential loss. Kerugian ini belum terjadi jika saham atau reksadana milik investor belum dijual atau dicairkan. Investor seharusnya menyadari bahwa investasi di pasar modal adalah investasi jangka panjang, yang membutuhkan kesabaran. ”Kesabaran sering menjadi kunci sukses berinvestasi di pasar saham dan reksadana saham,” kata Eko. Namun, yang sering terjadi sebaliknya, investor justru terburu-buru melepas sahamnya ketika melihat pasar modal sedang lesu (bearish). Padahal, naik turunnya indeks saham merupakan hal yang lumrah, apalagi jika hanya disebabkan oleh sentimen pelaku pasar. ”Selama investor yakin bahwa saham-saham yang dibelinya memiliki fundamental yang baik dan tidak ada sesuatu hal yang buruk dari kondisi ekonomi makro Indonesia, investor harus yakin bahwa sentimen pelaku pasar hanyalah bersifat sementara,” tutur pengamat pasar modal, Felix Sindhunata. Sikap terburu-buru melepas saham di harga murah juga sering melanda investor yang salah dalam menetapkan strategi investasi. Banyak investor yang terjebak menginvestasikan dana yang sebenarnya akan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga atau biaya pendidikan anak-anak ke pasar saham. Tidak jadi masalah jika di kemudian hari investor dapat menjual sahamnya di saat harga sedang tinggi. Persoalan akan muncul ketika saham itu harus dijual di saat seperti sekarang karena kebutuhan telah berada di depan mata. Tiga kategori investasi Untuk itu, Eko menyarankan, ke depan investor perlu mengevaluasi ulang tujuan investasinya. Setidaknya, itu dapat dilakukan dengan membagi investasinya menjadi tiga kategori horizon investasi, yaitu jangka pendek (1-3 tahun), jangka menegah (3-5 tahun), dan jangka panjang (di atas 5 tahun). Investor yang memiliki cadangan likuiditas jangka pendek sebaiknya menempatkan dananya dalam bentuk tabungan, deposito, Sertifikat Bank Indonesia, atau reksadana pasar uang. Dengan demikian, bila ada kebutuhan jangka pendek, bisa dipenuhi segera dengan mencairkan dana dari instrumen ini. Adapun dana yang diinvestasikan ke pasar saham adalah dana yang tidak akan digunakan minimal lima tahun ke depan. Warren Buffett, orang terkaya di dunia, yang dikenal cukup disiplin menginvestasikan dananya dalam jangka panjang mengatakan, ”Berpikirlah untuk 10 tahun ke depan, bukan 10 menit ke depan. Jika tidak siap memegang saham tertentu selama satu dekade, lebih baik jangan pernah membeli saham itu.” Pelajaran berharga yang bisa dipetik investor dari gonjang- ganjing pasar modal saat ini adalah yang terkait dengan fasilitas pinjaman dana (margin trading) dari perusahaan sekuritas. Ambruknya IHSG sebesar 22,17 persen hanya dalam tempo tiga hari (6-8 Oktober) tidak terlepas dari jual paksa (forced sale) yang dilakukan perusahaan-perusahaan sekuritas atas saham-saham investor. Jual paksa di harga murah itu harus dilakukan karena nilai portofolio investor terus merosot, yakni sudah di bawah nilai pinja>w 9536m<man investor kepada perusahaan sekuritas yang selama ini dipakai untuk membeli saham.>w 9736m< Menurut Robert Nayoan, jika ingin berinvestasi secara aman di pasar modal, investor sebaiknya memakai dana sendiri, bukan pinjaman pihak mana pun. Otoritas pasar modal juga perlu menertibkan praktik perdagangan margin tersebut. Praktik ini menjadi rahasia umum, yaitu perusahaan sekuritas bersedia memberikan pinjaman 3-5 kali lipat dari modal investor yang sebenarnya. Hal itu dilakukan agar investor aktif bertransaksi, yang ujung-ujungnya memberikan fee transaksi yang besar bagi perusahaan sekuritas. Hal lain yang perlu dilakukan investor adalah mengenali lebih dalam apakah ia investor yang cenderung menolak risiko (risk averter), berani menghadapi risiko (risk taker), atau berada di antaranya (moderate). Seorang investor yang risk averter biasanya mudah dihinggapi rasa panik. Menurut pengamat pasar modal, Adler Manurung, daripada selalu cemas samp>w 9636m<ai-sampai tidak bisa tidur, investor seperti ini lebih baik memindahkan portofolionya ke sektor perbankan, surat berharga pemerintah, atau emas dan properti yang memiliki risiko lebih rendah daripada pasar saham.>w 9736m< Investor risk taker bisa bertahan di pasar modal. Namun, sekali lagi, ia harus memastikan dana yang digunakan untuk membeli saham adalah dana ”nganggur” yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Adapun tipe moderate lebih cocok berinvestasi di reksadana pendapatan tetap dan campuran, atau obligasi perusahaan yang memiliki peringkat bagus. Pada akhirnya, semua investor harus menyadari bahwa tidak ada investasi yang tidak berisiko. Dalam ilmu keuangan dan investasi dikenal istilah ”High risk, high return”, semakin besar imbal hasil yang diharapkan dari sebuah investasi, semakin besar pula risikonya. Pilihan kembali kepada Anda. (Reinhard Nainggolan/ M Fajar Marta/ Joice Tauris Santi) Sumber: Kompas cetak |
| < Prev | Next > |
|---|