Pasar CPO Tambah Sepi
0, 28th October 2008
Selasa, 28 Oktober 2008 | 02:05 WIB
Pemerintah India Berencana Menaikkan Bea Masuk

Jakarta, Kompas - Perdagangan minyak kelapa sawit mentah atau CPO di pasar internasional semakin sepi. Lelang 12.000 ton CPO untuk pasar lokal di Kantor Pemasaran Bersama PT Perkebunan Nusantara Jakarta, Senin (27/10), gagal membukukan penjualan. Sebelas perusahaan domestik menarik diri dari proses lelang.

Alasannya, harga yang ditawarkan dalam lelang itu masih tinggi, yakni Rp 3.905-Rp 4.295 per kilogram (kg).

Dalam kaitan itu, pemerintah harus lebih proaktif mengembangkan pasar ekspor CPO baru untuk mengurangi jumlah stok domestik yang terus naik.

Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun di Jakarta, Senin, mengatakan, ”Transaksi masih berjalan, tetapi lambat. Permintaan memang semakin mengendur, terutama dari pasar luar negeri.”

Dari produksi 17,2 juta ton tahun lalu, Industri domestik hanya menyerap sebanyak 4,5 juta ton. Kondisi ini membuat pasar CPO nasional sangat bergantung pada pergerakan harga internasional.

Masa depan ekspor CPO Indonesia juga semakin mengkhawatirkan. India sebagai negara tujuan ekspor CPO terbesar kedua di Asia kini tengah mempertimbangkan untuk menetapkan tarif bea masuk impor minyak nabati sebesar 40 persen mulai November 2008.

Produsen minyak nabati India menuntut pemerintah di negeri itu untuk menaikkan bea masuk guna melindungi pasar domestiknya dari serbuan produk impor murah. Rencananya, Pemerintah India akan memutuskan hal ini pada 3 November nanti.

Dihubungi di Medan, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan, industri CPO terpaksa bertahan saat ini karena tidak ada permintaan baru. Pengusaha terpaksa terus menampung CPO karena kegiatan pengolahan tak bisa berhenti, sedangkan permintaan terus berkurang.

Meski demikian, industri hilir CPO sampai saat ini masih tetap beroperasi. Sahat mengatakan, industri oleochemical yang memproduksi berbagai produk turunan CPO masih berproduksi seperti biasa.

Pelemahan rupiah

Jika pada krisis global tahun 1997 industri komoditas bisa menarik manfaat dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, saat ini hal tersebut belum terjadi.

Kecenderungan pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang berlangsung selama seminggu terakhir ternyata belum mampu menggenjot harga CPO di dalam negeri.

”Yang terjadi sekarang memang karena permintaan lemah. Bukan karena pengusaha tidak ingin mengekspor. Jika permintaan normal, tentu saat ini eksportir sangat merasakan manfaatnya karena membeli dengan rupiah, lalu menjual CPO dalam dollar AS,” ungkap Sahat.

Wajib biodiesel

Sebenarnya aturan wajib pakai biodiesel dan bioetanol bagi industri, pembangkit listrik, dan transportasi umum cukup memberi harapan untuk pasar domestik.

Kebijakan ini diperkirakan bisa meningkatkan konsumsi CPO. Akan tetapi, pemerintah harus segera menerbitkan aturan pelengkap guna mempercepat implementasi kewajiban ini.

Produsen bahan bakar nabati pun siap bekerja sama dengan Pertamina untuk menyediakan tangki pencampuran minyak fosil dan nabati.

”Kami optimistis kebijakan ini akan efektif menaikkan konsumsi CPO domestik mulai tahun 2009. Saat ini kami terus membenahi hal-hal teknis yang dibutuhkan,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan. (ham)

Sumber: Kompas Cetak